Membangun Desa Setelah Melihat Dunia

Vidya Spay memiliki masa depan karier yang menjanjikan sebagai arsitek di Singapura. Vidya, akrab dia disapa, bekerja untuk sebuah perusahaan top yang merancang bangunan dan kota-kota di dunia. Namun, baginya, gaji besar dan pekerjaan mapan bukan segalanya. Setelah merampungkan studi S2 di Belgia yang dibiayai Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Vidya justru memutuskan pulang untuk membangun desa-desa di tanah air.

Semangat pemberdayaan seperti menjadi bagian dari kepribadian Vidya. Di kota kelahirannya, Solo, sulung dari empat bersaudara itu mendirikan sebuah start up di bidang rancang bangun. Meskipun masih terhitung baru, perusahaan itu telah mewujudkan impian lamanya menciptakan lapangan pekerjaan. Dengan dibantu oleh beberapa arsitek freelance, Vidya merancang beberapa bangunan di Solo dan Yogyakarta. Dalam sebuah proyek yang digarap, perempuan kelahiran 18 Mei 1985 itu bisa memberikan pekerjaan untuk 10 hingga 20 tukang bangunan. Pada akhir pekan, Vidya aktif dalam sebuah komunitas peduli desa yang terdiri atas para relawan dari multidisiplin ilmu. Bersama warga desa, mereka merancang program strategis. Mimpi dan visinya besar. Gerakan itu diharapkan mampu menciptakan perdesaan berdaya dengan karakter masing-masing dan didukung oleh perencanaan, program dan kebijakan yang strategis, serta teknologi komunikasi dan infrastruktur yang mendukung.”Harapannya adalah warga desa bisa hidup makmur, bangga, bahagia, dan saling bekerja sama memberikan manfaat,” kata Vidya. Saat ini ada tiga desa yang menjadi pilot project, dua desa berada Muntilan dan Karangpandan serta satu kampung di Solo. Vidya menemukan titik balik dalam hidup setelah melakukan perjalanan solo ke sebuah region (desa) di Norwegia. Perjalanan itu dilakukan pada masa akhir studi masternya tentang human settlements di KU Leuven University. Vidya memutuskan mengambil studi lebih dalam mengenai human settlements karena rasa ingin tahunya yang besar tentang persoalan housing for the poor. Saat menempuh pendidikan itu, Vidya mendapatkan kesempatan membuat proposal proyek strategis untuk post-industrial landscape di Brussels North, Belgia dan post-mining landscape di Afrika Selatan. Di desa kecil di Utara Eropa, Vidya dibuat takjub bagaimana sebuah region memiliki kondisi ekonomi yang sangat kuat. Dengan program dan kebijakan yang tepat, hanya dibutuhkan enam sampai sepuluh anak muda lokal untuk membangun bisnis yang mendukung konsumsi global. Desa yang didatangi Vidya itu mampu menyuplai ikan salmon hingga ke berbagai belahan dunia.“Perjalanan itu merupakan titik balik saya untuk kembali ke Indonesia dan memperdalam ilmu rural planningrural policy, dan rural program,” ujarnya. Berbekal ilmu dan global best practice didapatkan, dia ingin melakukan hal yang sama di Indonesia. Tiga area yang saat ini menjadi pilot project gerakan sosialnya merupakan penghasil buah salak, sayuran, dan produk-produk lain.

Pulang untuk mengabdi

Vidya tak silau dengan jaminan pekerjaan dan penghasilan besar sewaktu tinggal di Singapura. Selama empat tahun, dia turut ambil bagian dalam proyek-proyek besar di India, China, Qatar, hingga Turki. Proyek rancangan kota yang dibuat Vidya bersama tim di sana bahkan pernah dibahas majalah The Strait Time Singapore. Karier Vidya tampak cerah. Kenaikan jabatan dari asisten arsitektur menuju direktur tampaknya bakal bisa diraih dalam waktu relatif cepat. Namun, dia lebih ingin membangun negeri.“Saya mau pulang dan total,” Vidya tegas menjawab. Cita-cita membuka lapangan pekerjaan di tanah air yang dicintainya menjadi pertimbangan Vidya selanjutnya dalam memutuskan pulang. Vidya memetik hikmah setelah melihat dunia.”Di Singapura, hidup saya enak, ke mana saja dan beli apa saja bisa. Tetapi saya merasa tidak lengkap,” kata dia. Menurut Vidya, ada satu titik dimana manusia akan mempertanyakan dua hal, yaitu achievement dan fulfillment. Kebahagiaan tertinggi akan dirasakan jika seseorang sudah mendapatkan keduanya. Fulfillment, kata perempuan yang pernah menjadi relawan pengajar para TKI di negeri Singa itu, didapatkan ketika kontribusi seseorang bermanfaat bagi masyarakat.

Hampir tidak kuliah

Vidya dibesarkan oleh ayah dan ibu yang berprofesi sebagai pengusaha. Putri pasangan Wimpi Joko Wimono Spaye Putro dan Nani Mulyani tersebut bersyukur memiliki orang tua yang lembut dalam mendidik, tapi sangat berprinsip dalam moral. Bagaimana kedua orang tuanya bertahan dari krisis moneter tahun 1998 menjadi pengalaman masa remaja yang tak akan pernah dilupakan Vidya. Ketika krisis terjadi, usaha ayahnya di bidang restoran, mesin, dan rancang bangun nyaris tumbang. Tak jauh berbeda, sang ibu yang menekuni usaha kosmetik juga terkena dampak yang cukup parah. Saat itu, kata Vidya, sering kali ayah dan ibunya hanya memiliki uang 20 ribu rupiah yang cukup untuk makan saja. Dia ingat bagaimana sang ibu sering kali memasak sayur dengan kuah yang agak banyak agar cukup untuk Vidya dan tiga orang adiknya.“Yang saya salut dari mama, dalam keadaan penuh tekanan seperti itu pun, dia tetap menjaga kualitas hidup seperti tetap berada di jalan yang lurus, menjaga keluarga, dan mengurus tetangga kami yang yatim, janda, orang tua, dan orang yang terkena stress berat,” kata Vidya. Dampak krisis moneter masih membayangi keluarganya hingga Vidya lulus SMA. “Saya tidak tega melihat orang tua. Saya bilang ke Mama agar saya kursus saja, tidak usah kuliah,” ujarnya. Dari hasil membantu ibu berjualan kosmetik selama SMA, perempuan yang pernah menjadi juara 1 paralel selama 2 tahun secara berturut-turut saat duduk di bangku SMP tersebut mempunyai tabungan tiga juta rupiah. Uang itulah yang akan dia gunakan untuk membiayai kursus menjahit. Namun sang ibu berpesan lain.”Mama bilang kalau memang kuliah adalah rezeki saya, maka insya Allah pasti ada jalannya,” katanya. Dengan perjuangan yang gigih, Vidya menempuh perkuliahan di Universitas Gajah Mada Jurusan Arsitektur. Berbekal bantuan beasiswa, dia berhasil lulus dengan menggenggam predikat cum laude. “Saya menangis saat memberikan pidato sebagai lulusan terbaik,” kata Vidya dengan haru.

Persiapan Keberangkatan

Bagi Vidya, beasiswa LPDP adalah beasiswa yang spesial. Bagi Perempuan yang sejak kecil memiliki ketertarikan dengan gambar-gambar bangunan itu menekankan bahwa kualitas kontribusi terhadap lingkungan sekitar akan sangat membantu pada tahap seleksi administrasi dan wawancara LPDP. Yang juga disyukuri Vidya dari beasiswa LPDP adalah kesempatan untuk mengikuti Persiapan Keberangkatan yang sangat menginspirasi. Materi kepemimpinan didalamnya adalah alasan utama yang menjadikan Vidya berpendapat bahwa beasiswa ini spesial. Melalui program itulah Vidya lebih mengenal dan mencintai Indonesia. Dia mendapatkan banyak inspirasi dari kehadiran beberapa tokoh yang memiliki nasionalisme, integritas, dan kepemimpinan tinggi. Setelah kembali ke Indonesia, Vidya bergabung dalam sebuah tim think thank beranggotakan para alumni beasiswa LPDP. Dalam lembaga bernama Mata Garuda Institute itu, Vidya memberikan masukan terhadap berbagai isu strategis yang sedang dihadapi negeri ini. Ke depan, Mata Garuda Institute diharapkan mampu menjadi partner strategis dalam proses pembangunan Indonesia.

Sumber: Media Keuangan

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*