Tinggalkan Zona Nyaman Untuk Membangun Kesehatan Masyarakat

“Kenapa sih gak lanjut spesialis aja?” adalah pertanyaan yang paling sering saya dapatkan ketika orang tahu bahwa saya adalah dokter yang memilih bekerja dan kuliah lanjutan di bidang kesehatan masyarakat. Bagi saya, itu adalah pertanyaan paling menyebalkan kedua setelah “Kapan kawin?”, yang sekarang sepertinya sudah mulai jarang ditanyakan karena orang mulai sadar bahwa saya sudah kebal. Pertanyaan soal pilihan karir dan rencana hidup memang susah dijawab karena setiap orang mempunyai nilai-nilai hidup berbeda yang sulit dijelaskan dan dipahami. Tidak banyak orang yang bisa mengerti mengapa dokter yang lulus sarjana dengan gelar cum laude dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia melewatkan pilihan karir yang lebih mapan dan bergengsi. Seringnya, saya dianggap terlalu idealis atau mungkin kurang waras.

Sejujurnya, uang atau gelar memang tidak pernah menjadi pertimbangan saya kuliah kedokteran. Bukannya saya sudah terlalu banyak uang, tapi justru karena orang tua saya telah menunjukkan pada saya bahwa hidup lebih dari sekadar perjalanan mencari uang. Keputusan mendaftar di fakultas kedokteran pun akhirnya saya ambil karena itu adalah harapan kedua orang tua saya, dan dengan menjadi dokter, saya berharap bisa mengurangi penderitaan masyarakat yang sedang sakit, terutama mereka yang kurang mampu. Harapan itu masih terus saya pegang, dan alasan saya beralih ke bidang kesehatan masyarakat tak lain adalah karena saya yakin di situ saya bisa menolong lebih banyak lagi orang dan membuat diri saya berguna.

Tentunya, keyakinan itu muncul dari serangkaian pengalaman pribadi. Salah satunya adalah ketika saya berpraktik sebagai dokter umum di sebuah rumah sakit yang jaraknya tiga jam berkendara dari Jakarta. Saat itu saya sedang jaga malam di unit gawat darurat. Seorang pasien lanjut usia datang dibawa keluarganya karena tak sadarkan diri. Tidak ada satupun yang tahu pemicunya, dan riwayat penyakit apa yang dimiliki sang kakek. Untungnya, sebagai dokter yang baru lulus, saya mendapat bekal yang baik di Universitas Indonesia. Dengan informasi yang minim hasil wawancara dengan keluarga, ditambah tanda dan gejala yang saya dapati pada pemeriksaan fisik, saya menegakkan diagnosis sementara. Setelah menyingkirkan gangguan saraf pusat dan serangan jantung, dugaan saya mengarah pada komplikasi diabetes.

Untuk memastikannya, saya kemudian meminta bantuan perawat untuk mengambil sampel darah dan mengujinya di laboratorium. Akan tetapi, saya dibuat kesal karena pemeriksaan yang saya perlukan ternyata tidak bisa dilakukan malam itu. Rekan perawat saya menjelaskan bahwa tidak ada petugas laboratorium yang jaga malam itu. Akhirnya, karena sudah terlalu lelah untuk bertanya mengapa saya dibiarkan jaga malam tanpa ada petugas laboratorium yang siap siaga, saya hanya bisa melakukan pemeriksaan kadar gula darah dengan alat sederhana menggunakan sampel dari jari tangan. Sesuai dugaan saya, kadar gula darah pasien ini sangat tinggi sampai tidak terbaca oleh alat.

Dengan hasil pemeriksaan seadanya tersebut, saya memulai terapi berdasarkan diagnosis sementara. Dalam hati, saya hanya bisa berdoa semoga terapi yang saya berikan tidak salah. Untungnya, sekitar satu jam kemudian, setelah terapi pertama selesai, kakek yang tak sadarkan diri tersebut mulai bisa menggerak-gerakkan kepala dan tangannya serta merintih pelan sesekali.

Merasa semakin yakin dengan diagnosis yang telah dibuat, saya kemudian meminta bantuan perawat menyiapkan terapi lanjutan bagi sang kakek. Namun sekali lagi, saya tidak bisa memberikan pelayanan yang optimal karena ternyata obat yang diperlukan kakek tersebut sedang habis stoknya di rumah sakit. Setelah berusaha mencari obat tersebut di beberapa apotek besar di sekitar rumah sakit, keluarga pun disarankan untuk membawa sang kakek ke rumah sakit rujukan di tingkat kabupaten. Namun entah atas pertimbangan apa, keluarga malah bersikeras membawa kakek tersebut pulang ke rumah. Malam itu, saya merasa kalah dan tidak berdaya.

Semua ilmu yang saya pelajari, semua hal yang saya usahakan, akhirnya sia-sia. Saya harus dapat menerima bahwa seorang dokter tidak bekerja sendirian. Ia berada di dalam sebuah sistem yang seringkali berada di luar kendali dirinya. Ada banyak aktor yang terlibat, dan banyak faktor yang berperan. Kualitas tenaga kesehatan, infrastruktur, ketersediaan obat dan sarana penunjang, sampai urusan pendanaan semuanya menentukan seberapa optimal pelayanan yang dapat diterima pasien. Belum lagi ketika pasien yang dilayani ternyata lebih percaya dukun ketimbang tenaga kesehatan yang ada di fasilitas kesehatan. Sebagai manusia biasa, saya sering merasa kecewa.

Namun, di tengah segala rasa kecewa dan putus asa, Tuhan menunjukkan saya jalan yang lain. Saya terpilih menjadi satu-satunya peserta Indonesia di Global Health Conference yang diadakan di Sydney, Australia, dan menjadi delegasi di pertemuan WHO Western Pacific Regional Committee yang dihadiri para menteri kesehatan dari Asia Timur dan sekitarnya. Di kedua kegiatan tersebut, saya berbincang dengan menteri-menteri kesehatan dari negara-negara tetangga, termasuk Timor Leste, Malaysia, dan Singapura (yang dengan baik hati mengundang saya dan beberapa rekan makan malam sambil bercerita bagaimana menteri kesehatan di Singapura tidak mesti seorang dokter), dan termotivasi untuk berkecimpung di bidang kesehatan masyarakat guna memperbaiki sistem kesehatan yang ada.

Sedikit berbeda dengan ilmu kedokteran, ilmu kesehatan masyarakat lebih banyak mempelajari soal pencegahan penyakit, peningkatan kualitas hidup, serta perbaikan sistem kesehatan, termasuk program-program kesehatan dan layanan di rumah sakit dan Puskesmas. Hal-hal tersebut tentunya sangat relevan, karena masalah-masalah kesehatan yang ada di masyarakat saat ini sebagian besar adalah masalah sosial, ekonomi dan politik.

Maka, usai menyelesaikan tugas penempatan di Jawa Barat, saya memutuskan untuk mulai memahami dan berupaya memecahkan masalah dalam sistem kesehatan di Indonesia dengan menjadi staf dan konsultan bagi berbagai lembaga, termasuk beberapa kementerian, instansi pemerintah, dan lembaga internasional seperti World Health Organization (WHO). Dari situ, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi berbagai tempat di Indonesia dan melihat berbagai masalah kesehatan dari bawah, bagaimana sistem kesehatan bekerja di pelosok-pelosok, dan bagaimana berbagia aspek kehidupan serta budaya lokal mempengaruhi persepsi dan perilaku masyarakat terhadap kesehatan.

Saya kini paham betul bagaimana sulitnya menurunkan angka kematian ibu tanpa infrastruktur jalan yang baik, setelah saya menjalani sendiri perjalanan membelah hutan dari puskesmas di sebuah kabupaten di Sumba ke rumah sakit rujukan. Saya mengerti sulitnya menghentikan kebiasaan minum alkohol di kebudayaan Dayak setelah mempelajari kepercayaan Kaharingan dan adat istiadat penduduk setempat. Saya juga melihat sendiri bagaimana program-program kesehatan tidak berjalan baik karena otonomi daerah tidak selalu diikuti tata kelola yang baik di tingkat provinsi dan kabupaten.

Kompleks, adalah kata yang paling tepat menggambarkan sistem kesehatan di Indonesia. Masalah yang ada seringkali tidak dapat ditentukan penyebab pokoknya, semua saling berkaitan seperti benang kusut. Untuk membenahinya, diperlukan intervensi tata kelola di berbagai sektor, yang digerakkan oleh sumber daya manusia kesehatan yang terdidik, terampil, dan profesional. Di situlah saya merasa bisa berkontribusi, yaitu pada pengembangan kapasitas tenaga kesehatan masyarakat dengan menjadi pengajar di bidang kesehatan masyarakat yang mencetak sebanyak mungkin lulusan yang berkualitas dan mampu jadi penggerak perubahan sistem kesehatan.

Saya memulai upaya saya dari kegiatan Health Professional Education Quality dari Kemenristekdikti, di mana saya menyuarakan pentingnya keterlibatan peserta didik dalam peningkatan mutu pendidikan, serta mendorong dijalankannya pendidikan interprofesi kesehatan di Indonesia. Saya memimpin tim multiprofesi dari berbagai negara memenangkan Health Care Team Challenge di All Together Better Health Conference di Kobe dan mendapatkan beasiswa pelatihan pendidikan interprofesi di WHO Collaborating Center, Gunma University. Saya juga terlibat dalam penyusunan materi pembelajaran kesehatan ibu dan anak dari WHO yang kini tersedia online dan diakses lebih dari satu juta pengunjung tiap tahunnya. Dan kini, saya bekerja di Indonesia One Health University Network, yang bergerak dalam penguatan pendidikan serta pelatihan tenaga kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan untuk mencegah penyakit menular. Ke depannya, saya berharap dapat menjadi pengajar, yang membangun kualitas pendidikan kesehatan masyarakat di Indonesia.

Perjalanan saya di bidang kesehatan masyarakat tersebut tentunya tidak lepas dari kontribusi LPDP, yang memberikan saya beasiswa untuk menempuh pendidikan lanjutan. Akan tetapi, pada awalnya, saya tidak terlalu percaya diri akan bisa memperoleh beasiswa tersebut. Maklum saja, saya adalah keturunan Tionghoa, lahir di keluarga Kristen, yang juga jadi korban kerusuhan Mei 1998. Rumah nenek buyut saya habis dibakar, beserta usaha bengkel dan mobil yang ada di sana. Tumbuh dewasa, saya sering merasa asing di tanah air saya sendiri, dilabel ‘Cina’ meskipun saya sama sekali tidak bisa bahasa Mandarin dan tidak paham budayanya. Bagi saya dan orang Indonesia lain yang pernah punya pengalaman serupa, akan selalu ada pemikiran bahwa kecil kemungkinannya Indonesia akan berpihak pada kami.

Namun, takdir berkata lain. Beasiswa LPDP bisa saya raih, membuat saya begitu bersyukur karena LPDP ternyata tidak memandang dari suku apa saya berasal. Setelah mendapat tawaran melanjutkan kuliah di beberapa universitas di Belanda dan Inggris Raya, saya akhirnya memilih menempuh perkuliahan di University of Glasgow, salah satu dari seratus universitas terbaik di dunia. Dan usai menamatkan program Master of Public Health dengan penghargaan FP Shah Award for the Best International Student Completing MPH Program, saya kembali ke Indonesia di tahun 2015.

Pengalaman berkuliah dan hidup di Inggris Raya sudah membuka wawasan saya mengenai sistem kesehatan di negara maju, serta masalah-masalah kesehatan yang perlu diwaspadai ketika Indonesia kelak semakin berkembang. Kini, saya ingin agar apa yang saya dapatkan selama proses perkuliahan dapat saya teruskan kepada sebanyak mungkin mahasiswa kesehatan masyarakat di Indonesia. Saya juga berharap dapat memperbaiki sistem kesehatan di Indonesia dengan gagasan yang saya miliki.

Penulis: Samuel J Olam (Awardee LPDP Program Magister di University of Glasgow)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*