Nasi Padang, Dalam Inspirasi Kita Berbagi

“… Terima kasih kakak Mauli yang telah mengirim surat dari Belanda. Dahulu saya sangat bermimpi ingin berada di negara Belanda. Dan impian itu terwujud dari selembar surat dari kakak. Semoga Kakak dan saya bisa bertemu di lain waktu dan sharing tentang hal yang pernah kakak alami di sana. Meskipun saya tidak pergi ke sana tetapi saya bisa merasakannya. Terima kasih juga berkat tim “Nasi Padang” saya bisa merasakan negara yang mengirim surat kepada saya…” 

-Dewi Susanti, pelajar, Jawa Timur

Katanya inspirasi bisa datang dari mana saja: dari obrolan di warung makan, dari poster di jalanan, dari halaman buku, ataupun dari jawaban pendek di balik sebuah kartu. Kita tahu bahwa menginspirasi tentu tidak mudah. Namun ketika beberapa baris kalimat ternyata dapat menumbuhkan motivasi, bayangkan betapa indahnya hal itu. Tulisan ini ditujukan untuk mengangkat cerita tentang aktivitas dari sekumpulan pelajar Indonesia yang memanfaatkan kartu pos demi menghidupkan inspirasi lewat cerita.

*   *   *

Menanam inspirasi kepada generasi mendatang atau disingkat menjadi dua kata: Nasi Padang. Harfiah sesuai dengan namanya, memberikan kontribusi dalam penyaluran inspirasi dari civitas akademika Indonesia yang tersebar di berbagai belahan dunia adalah kurang lebih sekelumit filosofi dibalik Nasi Padang. Memasuki tahun keempat sejak dirintis pertama kali, orang-orang yang berkenaan dengan Nasi Padang patut berbangga karena program yang berada di bawah payung organisasi Forum Mahasiswa Awardee LPDP (Formal) Jerman ini masih bertahan dengan eksistensinya. Tak hanya itu, banyak ide baru dikembangkan sebagai bentuk inovasi kegiatan agar ‘menu’ Nasi Padang tidak membosankan. Alhasil, program Nasi Padang mulai mendapat perhatian dari berbagai pihak, walaupun masih ada juga yang belum maklum bahwa Nasi Padang bisa menyenangkan walaupun tanpa cumi telur atau kuah rendang. Ya. Cukup dengan kartu pos Nasi Padang.

Nasi Padang: Kartu Pos Inspirasi

Nasi Padang merupakan salah satu program kerja asuhan Formal Jerman. Program ini awalnya muncul sejak tahun 2014 dalam bentuk gagasan dari beberapa rekan anggota Formal. Gayung pun bersambut. Desain program Nasi Padang yang sederhana namun menarik, yaitu berkirim cerita lewat kartu pos, terlihat memiliki potensi untuk memperkenalkan Formal Jerman secara lebih luas sekaligus menjadi benang penyambung antara mahasiswa di luar negeri dengan tanah air tercinta. Tujuan awalnya pun apik, yaitu demi menginspirasi lebih banyak anak muda Indonesia agar bersemangat menggapai jenjang pendidikan tinggi sehingga dapat bersama membangun negeri.

Tidak mengherankan, jumlah pengirim kartu pos atau inspirator ketika program ini pertama kali digelontorkan adalah sekitar 70 orang, meningkat pesat pada periode berikutnya. Cakupan negara tempat studi inspirator pun tidak terbatas pada Jerman atau negara-negara di benua Eropa saja, melainkan juga dari Amerika, Australia, dan Asia. Komposisi pengirim kartu pos tidak terbatas hanya pada mahasiswa S1, S2, atau S3 dari berbagai latar belakang keilmuan. Belakangan, warga Indonesia yang berdomisili di luar negeri untuk bekerja pun tertarik untuk turut menjadi bagian dari jaringan kartu pos inspirasi ini.

Tidak hanya cakupan inspirator yang berkembang, penerima kartu pos di tanah air pun menunjukkan peningkatan antusiasme yang menggembirakan. Permintaan cerita kartu pos dan jadwal pendaftaran penerima menjadi pertanyaan yang reguler dilontarkan lewat media sosial dan saluran kontak Nasi Padang lainnya.

Apakah kartu pos Nasi Padang hanya untuk pelajar atau mahasiswa saja?

Tentu tidak. Nasi Padang menjembatani pengiriman kartu pos kepada pelajar, mahasiswa, guru, karyawan, bahkan juga ibu rumah tangga yang ingin agar buah hatinya dapat menerima cerita dari kakak mahasiswa yang sedang berkuliah di luar negeri. Tercatat bahwa penerima termuda yang telah dikirimi kartu pos adalah anak yang terdaftar di sekolah PAUD. Bagaimana pun, dalam evaluasi berkala, Nasi Padang berusaha agar dapat menyentuh target penerima dengan dampak yang lebih luas, seperti guru yang dapat meneruskan cerita kepada siswanya, atau pelajar yang bisa membaca kartu pos yang diterima bersama-sama dengan teman lainnya.

Sejak pembaharuan database bulan November 2017 hingga Januari 2018, terdaftar sejumlah 222 inspirator dari 23 negara yang tersebar di berbagai benua dan 414 penerima kartu pos Nasi Padang yang berdomisili di 29 provinsi di Indonesia.

Penyajian Nasi Padang

Semakin banyak yang ingin menjadi bagian dari program Nasi Padang, semakin banyak kartu pos yang dikirim dan diterima setiap bulannya, semakin meningkat pula kesulitan dalam pengaturan pengiriman. Dari tim Nasi Padang sendiri telah disepakati bahwa pembukaan formulir pendaftaran penerima kartu pos dibuka dua kali setahun. Dalam setiap periode, alokasi pengiriman ditentukan oleh tim setiap kurang lebih sebulan sekali. Alokasi pengiriman diatur sedemikian rupa sehingga inspirator akan menujukan kartu posnya ke penerima yang berbeda-beda, sehingga diharapkan cerita-cerita inspiratif yang diterima dapat bervariasi. Tim Nasi Padang juga menerapkan beberapa mekanisme pengiriman dan penerimaan kartu pos untuk memudahkan pendokumentasian.

Yang menarik adalah, Nasi Padang memberikan ruang bagi penerima untuk ‘memesan’ cerita yang diharapkan dalam kartu posnya. Misalnya, seorang mahasiswi perguruan tinggi yang ingin mendapat tips mengenai kaget budaya saat melanjutkan studi di luar negeri atau siswa sekolah dasar yang ingin tahu bagaimana dinginnya saat hari bersalju. Permintaan khusus seperti itu berusaha diakomodasi oleh tim Nasi Padang dengan sistem pengalokasian sebagaimana yang dijelaskan di atas.

Hingga saat ini pengiriman kartu pos masih bersifat satu arah, yaitu dari inspirator ke penerima. Tentu banyak juga yang mengharapkan agar pengiriman kartu pos dapat resiprok. Menyiasati hal tersebut, dilakukan follow up terhadap kartu pos yang berhasil tiba dan diterima di tanah air dan penerima diminta mengirimkan dokumentasi pembacaan. Sebisa mungkin dokumentasi tersebut dimunculkan di halaman media sosial Nasi Padang dengan menandai pihak pengirim maupun penerima agar kedua belah pihak maklum dan dapat saling berinteraksi.

Nasi Padang Kini dan Nanti

Seandainya saja tidak ada kartu pos, mungkin Sapardi Djoko Damono tidak akan memainkan kata yang indah sebagaimana dalam salah satu puisi beliau “Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate San Fransisco”. Sama halnya dengan para inspirator yang terdaftar di Nasi Padang, berlomba-lomba memilih kartu pos dengan gambar ikonik yang paling cantik agar penerima dapat membayangkan keindahan tempat ditulisnya kartu pos dengan cara yang sama. Sayangnya, bukan berarti berkirim kartu pos seperti ini tidak akan menemui kendala.

Di atas tadi adalah cerita tentang kartu pos inspirasi, namun cerita Nasi Padang tidak cukup sampai di sini. Di awal tulisan ini sempat disinggung mengenai inovasi. Nah, sejak formasi tim Nasi Padang periode 2017/2018 dibentuk, terjadi penambahan satu aktivitas lagi di Nasi Padang yang diberi nama Beasiswa 3 euro-an. Ya, ini adalah skema beasiswa untuk adik-adik di Indonesia (saat ini masih terbatas di tiga kota: Jakarta, Yogyakarta, dan Medan) yang pendaannya dikumpulkan dari anggota Formal Jerman. Masih ada kaitannya dengan kirim-mengirim kartu pos, adik-adik penerima beasiswa ini juga mendapat kiriman kartu pos penyemangat belajar. Bedanya adik-adik ini diwajibkan untuk membalas kartu pos yang mereka terima.

Saat ini, Nasi Padang diharapkan masih nikmat dengan dua kegiatannya yaitu kartu pos inspirasi dan beasiswa 3 euro-an. Di masa yang akan datang bukan tidak mungkin ‘lauk’ nasi padang akan diubah, dimodifikasi, atau mungkin ditambah lagi.

Salam berbagi, karena berbagi tidak harus menunggu nanti.

Email Nasi Padang : mynasipadang@gmail.com

Facebook                  : Nasipadang Lpdp Jerman

Instagram                  : @nasipadang.id

 

Penulis: Made Ayu Dwi Pradnyawati (Awardee LPDP Program Master, Program Studi International Health di Charite Universitatmedizine Berlin) 

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*