Bersama Bayi Menjalani Perkuliahan, Menembus Batas Kekuatan Diri

Amarizni Mosyaftiani mendapatkan beasiswa LPDP tahun 2015 saat mengandung calon bayi berumur lima bulan. Semua orang terdekat, baik suami, ibu dan anggota keluarga lainnya meragukannya untuk melanjutkan kuliah dalam waktu dekat, mereka menyuruhnya untuk cuti terlebih dulu. Karena prediksi kelahiran terjadi ditengah perkuliahan dan keluarga mengkhawatirkan kondisi dirinya. Entah mengapa tidak ada keraguan padanya untuk melanjutkan sekolah tanpa cuti. Ditambah lagi, syarat beasiswa dan perguruan tinggi saat itu tidak memperbolehkannya menunda kuliah membuat keyakinannya semakin bulat untuk tetap lanjut kuliah.

Amar, sapaan akrabnya, memilih jurusan Arsitektur Lanskap, Institut Pertanian Bogor dalam studi magisternya. Dia mempunyai mimpi untuk mengembangkan kawasan perkotaan di Indonesia yang lebih ekologis, agar perkotaan dan masyarakatnya mempunyai keterikatan dengan ekosistem Daerah Aliran Sungai dalam mengelola daerah. Dengan begitu, ekosistem perkotaan bukan sekedar pusat pembangunan dan ekonomi, namun dapat berkontribusi pada pemeliharaan keanekaragaman hayati dan peningkatan jasa lingkungan yang lebih produktif. Hal tersebut dipelajari di Departemen Arsitektur Lanskap IPB, satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki departemen pada ruang lingkup tersebut yang memiliki kualitas terbaik. Dia meyakini bahwa pilihan sekolah di dalam negeri pun bukan berarti berada di ‘kelas dua’, melainkan bisa dapat membuktikan untuk menjadi orang yang berkualitas dan tetap dapat berperan dalam pergaulan global untuk memajukan Indonesia.

Masa kuliah tiba, kehamilannya menginjak delapan bulan. Awal kuliah dia memikirkan berbagai strategi untuk merencanakan mata kuliah yang dia ambil agar dapat efektif, tidak mengakibatkan kelelahan dan tetap fokus pada tugas kuliah. Sebelumnya dia baru saja pindah ke Depok karena suaminya bekerja di Jakarta. Dia berharap dapat tetap bersama suaminya dan juga dapat tetap mengurusi rumah.

Setiap hari, dirinya menempuh perjalanan Depok-IPB Darmaga sejauh 35 km dengan menggunakan ojek dan kereta commuter line. Beruntungnya, ibu hamil ini dimudahkan oleh transportasi ojek online yang setidaknya jauh membuat waktu, biaya dan tenaga lebih efisien. Naik turun tangga jembatan penyebrangan di Stasiun Bogor setiap kali mengakses transportasi tersebut sangat berkesan menjadi sarana olahraga untuk kehamilannya walaupun perlu lebih perlahan untuk menyusurinya.

Hari demi hari perkuliahan dilewati, puji syukur Allah menguatkan diri berkuliah, mengerjakan tugas dan melakukan perjalanan ke kampus hingga kehamilan 9 bulan. Kendala kesehatan tidak terasa karena mungkin berkuliah menjadi pengalihan perhatian yang menyenangkan. Hanya, butuh waktu lebih lama dalam berjalan dan menaiki tangga. Apalagi dia perlu selalu menaiki tangga menuju kelas. Pernah ada satu mata kuliah yang kelasnya berada di lantai 4. Teman-teman menyuruhnya untuk meminta keringanan pindah kelas, namun Amar tidak mau dibedakan dengan kawan lain. Dia menganggap ini maksud Allah sebagai bentuk olahraga untuk melancarkan persalinannya. Dia ingat perlu waktu 20 menit untuk menaiki tangga tersebut sehingga biasanya ia meluangkan satu jam perjalanan lebih awal dari perjalanan biasa yang memakan waktu 2 jam, supaya tetap dapat masuk kuliah tepat waktu.

Dokter kehamilan menyebutkan bahwa prediksi waktu melahirkan yaitu minggu ke empat di bulan Oktober. Minggu tersebut adalah awal masa UTS dan dia merencanakan untuk ijin tidak masuk kuliah selama seminggu sebelumnya, karena masa UTS S2 selama 2-3 minggu biasanya berbentuk take home sehigga dapat dikerjakan di rumah. Selama kuliah satu semester, mahasiswa mempunyai batas ijin tidak mengikuti kuliah selama 3 kali pada setiap mata pelajaran. Amar menggunakan waktu-waktu tersebut untuk dapat ijin libur melahirkan. Kemudian Amar berencana untuk ijin tidak kuliah kepada semua dosen mata kuliah seminggu sebelum waktu prediksi tiba. Dia masih santai saja naik ojek, naik tangga dan masuk kelas untuk berkuliah saat kehamilan menginjak minggu ke-38. Saat minta ijin pada dosen untuk tidak mengikuti kuliah dalam satu hingga dua kali pertemuan, dosen mengijinkan dengan baik hati. Ada pula dosen yang mengatakan padanya, jika memang kerepotan setelah melahirkan, tidak apa-apa untuk tidak melanjutkan kuliah. Perkataan tersebut menjadi pecut bagi dirinya agar membuktikan bahwa dirinya bisa bertanggung jawab menjalankan amanah untuk menyelesaikan kuliah dengan optimal.

Pada minggu tersebut ada satu mata kuliah, Perencanaan dan Desain Lanskap, yang mengharuskan mahasiswa untuk pergi ke lapangan untuk menilai dan merencanakan lanskap tersebut sebagai tugas dari kuliah tersebut. Kebetulan kelompoknya perlu melakukan survei lokasi penambangan kapur yang ada di daerah bukit kapur di Ciampea, sekitar 20 menit dari kampus. Merasa kondisinya fit dan semua keperluan telah dipersiapkan, Amar merasa perlu ikut kelompoknya sebagai kewajiban menunaikan tugas mata kuliahnya sebelum ia ijin libur kuliah minggu depannya. Teman-temannya khawatir akan dirinya, tapi melihat semangat dan kondisinya, akhirnya teman-temannya mendukung untuk ikut survey dengan waktu yang hanya setengah hari saja. Dalam perjalanan yang cukup berbatu menaiki motor, terkadang bagian perutnya menegang karena capek, namun setelah istirahat kembali normal dan dapat melanjutkan perjalanan hingga kembali pulang ke Depok dengan selamat. Keesokan harinya, dia merasakan tanda-tanda kontraksi saat dia bangun, dia dan suaminya berpikir sepertinya perlu diperiksa ke rumah sakit terdekat. Kebetulan hari itu tidak ada jadwal kuliah. Mereka berangkat pagi-pagi ke rumah sakit masih dengan perasaan yang tenang. Setelah sampai dan diperiksa oleh dokter, ternyata Amarizni tidak boleh pulang dan harus tetap di rumah sakit karena ternyata sudah berada di tahap awal persalinan. Dia langsung gugup dan kaget, suami pun langsung cuti kerja saat itu. Seharian ia diperiksa, ternyata tetap masih di tahap awal kelahiran, namun kontraksi di perut sudah mulai terasa. Malam hari, orang tuanya datang dari Bandung, memberikan semangat tambahan untuk menghadapi nyeri yang mulai menjadi. Namun, tanda-tanda kelahiran belum terlihat. Sampai pada pagi hari berikutnya, proses kelahiran sudah mulai terjadi dan penambahan infus dilakukan untuk meningkatkan kelancaran kelahiran. Akhirnya, siang hari sebelum Dzuhur, bayi pun lahir dengan selamat. Alhamdulillah, hanya syukur yang selalu terucap. Kawan-kawan kuliah pun kaget setelah mendapat kabar kelahiran bayinya, karena lahir di minggu ke-38, dua minggu lebih cepat dari prediksi. Kawan-kawan mengira itu karena dipicu oleh perjalanan pada kuliah terakhir. Apapun itu, Amar percaya memang sudah kehendak Allah yang terbaik. Tantangan selanjutnya pun dimulai.

Dukungan keluarga terutama sebulan setelah melahirkan sangat berarti, apalagi dalam kondisi tubuh yang belum fit, perlu mengurusi bayi dan perlu mengerjakan UTS. Alhamdulillah selama 2 minggu UTS bisa tetap mengerjakannya di rumah sambil menyusui dan mengurusi bayi, yang diberi nama Fatih.

Setelah itu, Amarizni berkuliah kembali dan mengurusi Fatih bersama suaminya didukung dengan keluarga yang datang bergiliran untuk menjaga Fatih saat saya berkuliah 2-3 hari dalam seminggu. Orang tua pun sering datang terutama saat masa UTS dan UAS. Terkadang, Amar membawa Fatih saat kuliah, mengerjakan tugas atau bertemu dengan dosen bahkan mengikuti field trip ke luar kota. Jika tidak sedang berkuliah, dia sering membawa Fatih jalan-jalan mengenal alam dan sekitarnya. Fatih pun dapat diberikan ASI selama dua tahun.

Sampai pada hari ini, Amar tidak menyangka telah menyelesaikan studi setelah 29 bulan lamanya berkuliah, melakukan penelitian tesis mengenai Rekayasa Ekologis Lanskap Riparian Sungai Ciliwung di Kota Bogor hingga mendapatkan IPK mencapai 3,8. Selama studi, dirinya aktif mengikuti berbagai seminar nasional dan internasional. Sekaligus dia menjadi perwakilan satu-satunya orang Indonesia yang mengikuti simposium ke-60 Asosiasi Internasional Ilmu Vegetasi (IAVS) di Palermo, Italia. Dia pun aktif menulis paper untuk dipublikasikan di jurnal berstandar internasional. Dia pun sempat berperan menjadi panitia Simposium Internasional Arsitektur Lanskap yang diadakan oleh departemen tempatnya berkuliah.

Dengan aktivitas kuliah dan berbagai kegiatan yang dilaluinya, Amar tidak menyangka bahwa dirinya dapat melampaui pencapaian yang dia pun tidak pernah sangka sebelumnya. Dia pikir, kuliah dan lulus saja sudah cukup ditambah peran barunya sebagai ibu. Namun ternyata, niat dan tekad kuat membuat dirinya dimampukan Allah dalam menghadapi semua kendala dan semua tantangan yang menghadang. Bayi Fatih pun tetap dapat perhatian terbaik dari Amar dan suaminya. Usianya kini menginjak 2 tahun 4 bulan, hampir sama dengan lamanya waktu dirinya berkuliah. Amar berseloroh, “Bayi ini juga penerima beasiswa, ikut lulus S2 dan dia sepertinya perlu dibuatkan toga saat saya wisuda.” Kawan-kawannya tertawa saat dia bergurau seperti itu.

Teringat pesan Damian Tang, Presiden Federasi Internasional Arsitek Lanskap Asia Pasifik, yang ditulis di buku kecil Amarizni saat bertemu pada suatu simposium. Pesannya menjadi penyemangat kita semua untuk menjalani hidup lebih tangguh di masa depan.

Believe in what you do, do not give up ever when the road gets tough. Tough roads only make us stronger and better in life” ~ Damian Tang

Penulis: Amarizni Mosyaftiani (Awardee LPDP Program Masgiter Arsitektur Lanskap Institut Pertanian Bogor)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*