Berniat Terus Meneliti Tikus

Sebagai peneliti muda, prestasi Heru Handika tak bisa dianggap rata-rata. Heru—panggilan akrab pemuda asal Padang, Sumatera Barat itu—menjadi salah satu peneliti dalam tim internasional yang menemukan tikus hidung babi di Sulawesi pada 2015. Tikus tersebut berhasil dicatatkan sebagai genus baru. Kini, Heru tengah merampungkan pendidikannya di program Master of Science (Zoology) di the University of Melbourne, Australia dengan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Kepada Media Keuangan, Heru mengatakan bahwa tikus hidung babi adalah salah satu dari 39 jenis tikus yang saat ini telah diketahui. Tikus itu melengkapi jenis tikus karnivora di Sulawesi. Di dunia, tikus hidung babi termasuk shrew-rats (tikus cecurut) yang hanya hidup di Indonesia dan Filipina. Gunung Dako, Tolitoli, Sulawesi Tengah, tempat ditemukannya tikus hidung babi, merupakan kawasan yang belum pernah disurvei sebelumnya. “Penemuan tikus hidung babi membuka kemungkinan yang mendukung teori bahwa Sulawesi bukan hanya memiliki fauna unik di pulaunya, melainkan juga di kawasan penemuan, sehingga tidak terdapat di tempat lain di pulau yang sama,” kata Heru.

Heru telah meneliti tikus selama tujuh tahun dan mengaku tidak jijik sama sekali dengan hewan pengerat itu. “Apalagi tikus yang saya teliti bukan tikus yang hidup di pasar atau perumahan,” ujarnya. Fokus penelitian pemuda kelahiran 12 Juni 1990 tersebut adalah tikus yang hidup di kawasan hutan dan pegunungan. Menurut Heru, tikus-tikus yang ditelitinya memiliki bentuk sangat menarik. Ketika menemukan tikus, yang dilihatnya adalah keunikan dari setiap ekor. Saking senangnya, Heru pernah sampai melompat-lompat sendiri di hutan ketika menemukan tikus jenis baru. “Bagi sebagian orang mungkin ini aneh. Namun, ketika pekerjaan yang dilaksanakan menjadi sebuah passion, yang ada bukan lagi rasa jijik, tapi sebuah kesenangan,” katanya lagi. Tikus saat ini diketahui sebagai mamalia dengan jumlah jenis terbanyak, yaitu sekitar 30 persen dari jumlah total spesies mamalia. Tikus ada di manamana dan mengusai berbagai macam tipe habitat, mulai dari dari gurun yang kering hingga ke wilayah tropis. Di Indonesia sendiri, tikus dapat ditemukan mulai dari tempat ketinggian setara permukaan laut hingga puncak gunung. “Tidak ada jenis mamalia lain, selain manusia tentunya, yang tingkat adaptasinya seperti tikus,” ujar Heru. Kemampuan seperti ini menjadikan tikus sebagai model yang tepat untuk mempelajari adaptasi hewan terhadap lingkungannya. Di Indonesia, belum banyak penelitian tentang tikus. “Kesempatan itu yang saya ambil,” kata dia menambahkan.

Penelitian Lanjutan

Program Master of Science (Zoology) di the University of Melbourne yang diambil Heru bersifat coursework, tetapi 63 persen kurikulumnya merupakan penelitian. Di sana, mahasiswa hanya mengambil enam mata kuliah di dalam kelas. “Saya banyak mempelajari tentang pengelolaan hewan liar, sistem hutan, etika dalam sains dan penelitian, serta bagaimana mengkomunikasikan sains ke sesama peneliti maupun masyarakat luas,” ujar Heru. Penelitian tesis yang diambil Heru memiliki fokus pada persebaran dan evolusi spesies tikus di semenanjung utara Sulawesi. Dari penelitian itu, dia banyak belajar tentang evolusi spesies tikus, tingkat adaptasinya dengan lingkungan, dan pengaruh batasan geografis dalam evolusi species. Manfaat terbesar dari penelitiannya kali ini adalah untuk manajemen konservasi. “Namun, juga bisa bermanfaat bagi penelitian kesehatan dalam ruang lingkup manajemen parasit,” ujar Heru. Heru memutuskan untuk melanjutkan kuliah di the University of Melbourne antara lain karena ketertarikannya terhadap aktivitas penelitian sang supervisor. “Bagi kami yang kuliahnya lebih banyak penelitian, pilihan supervisor jauh lebih berpengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan kami selama berkuliah,” kata dia. Hal ini karena dalam kehidupan sehari-hari, mahasiswa akan lebih banyak menghabiskan waktu meneliti dan berkomunikasi dengan supervisor dibandingkan menghadiri kelas.

Mendaftar LPDP

Untuk bisa berkuliah di Australia, Heru harus melalui perjuangan lulus seleksi LPDP. Butuh waktu satu tahun baginya untuk dipanggil menghadapi tes wawancara. “Saya beberapa kali memasukkan ulang aplikasi beasiswa saya karena tak kunjung dipanggil untuk wawancara,” katanya. Ketika kesempatan itu datang, Heru terlanjur ambil bagian dalam penelitian vertebrata di Pulau Samar, Filipina. Tempat seleksi wawancara LPDP yang dipilihnya saat itu adalah Jakarta. “Waktu itu wawancara dilaksanakan dalam tiga batch. Jika saja saya mendapatkan jadwal wawancara pada batch kedua dan ketiga, saya tidak mungkin bisa mengikuti wawancara karena saat itu sudah berada di Filipina,” ujar Heru. Kesempatan yang dinantikannya selama setahun lenyap seketika. Heru berada dalam dilema. Namun, akhirnya dia memutuskan untuk tetap berangkat ke Filipina. “Itu adalah kesempatan emas karena saya menjadi satu-satunya orang Indonesia dalam penelitian yang kerja sama antara Universitas Filipina dan Kansas University,” kata Heru. Dalam keberangkatan ke negara tetangga, dia menyimpan doa. “Jika beasiswa LPDP menjadi milik saya, pasti saya akan tetap mendapatkannya,” ujarnya melanjutkan cerita. Doa Heru terkabul. LPDP memberi kesempatannya melakukan wawancara di batch pertama. Surat-surat undangan penelitian di Filipina menjadi alasan penguat baginya meyakinkan pewawancara. Di Filipina, Heru tinggal di hutan selama 40 hari. Setelah penelitian selesai dan mendapat akses internet, kabar baik itu datang. “Saya lulus wawancara LPDP dan mendapat undangan untuk mengikuti Pelatihan Kepemimpinan,” ujar Heru.

Aktivitas Lain

Selama hampir dua tahun melanjutkan studi di Negeri Kanguru, Heru juga menjadi research student di Museum Victoria. Hal ini sudah menjadi bagian kerja sama antara Museum Victoria and kampusnya. Mahasiswa mendapatkan ruang sendiri di museum sebagai tempat belajar dan diberi fasilitas untuk melaksanakan penelitian. Keseharian Heru lebih banyak dihabiskan untuk melaksanakan penelitian. Namun, dalam beberapa kesempatan, dia masih terlibat dalam aktivitas yang dilaksanakan pengelola museum. Salah satunya pada kegiatan SmartBar, di mana Heru mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan teknik pengawaten spesimen hewan di depan warga Melbourne. Heru juga terlibat dalam riset kerja sama antara Museum Victoria dan University of California di Amerika Serikat serta Museum Bogoriense di Indonesia. Sebagai peneliti, dia telah menjadi anggota the American Society of Mammalogists. Di luar itu, Heru pun aktif di perhimpunan mahasiswa LPDP Victoria. “Saya juga aktif menulis di AustraliaPlus,” ujarnya. Tulisan-tulisan Heru yang banyak membahas pendidikan dan perjuangan kuliah ke luar negeri juga muncul di media-media nasional yang bekerja sama dengan AustraliaPlus, seperti Detik.ComTribunNewsTempo, dan MetroTVNews.

Rencana ke depan

Saat ini Heru bersiap dengan gelar S2 barunya. Setelah lulus, dia ingin melanjutkan penelitian-penelitiannya, termasuk soal tikus. “Saya masih mempunyai kerja sama penelitian sekitar dua hingga tiga tahun ke depan dengan menggunakan dana riset yang sama,” kata dia. Selain itu, Heru juga berencana melanjutkan kuliah S3. Dia mengungkapkan masih memiliki data sangat banyak yang belum diolah. Data ini sangat penting untuk pemahaman kita tentang pulau Sulawesi dan keunikannya. “Saya membutuhkan pendidikan dan training yang lebih baik agar pengolahannya terarah. Kuliah S3 akan menjadi solusi yang lebih jelas bagi perkembangan penelitian saya,” ujar Heru lagi. Cita-cita berikutnya adalah pulang ke tanah air dan mengajar di salah satu universitas di Indonesia. Heru berharap dapat berkontribusi dalam upaya menjadikan sains sebagai bagian penting dalam kehidupan di Indonesia. “Semoga negara kita bisa menjadi pusat ilmu pengetahuan hayati di masa akan datang,” kata Heru.

Sumber: Media Keuangan Kemenkeu

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*