PEMULUNG SAMPAH YANG MIMPI SEKOLAH KE LUAR NEGERI #ShitLPDPAwardeessay

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bagi kami sekeluarga, bahwa saya masih diberikan kesempatan untuk merasakan pendidikan bahkan mendapatkan beasiswa luar negeri dari pemerintah Republik Indonesia.

Sedari kecil, saya sekeluarga terbiasa hidup mengkontrak di sebuah kamar kecil, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Hingga pada tahun 2006 kami diperkenankan untuk mendirikan sebuah gubug kecil dengan status di atas Tanah milik pemerintah Kota Semarang. Akan tetapi keadaan ini sudah sangat kami syukuri karena kami masih diberikan tempat untuk berlindung dari panasnya matahari dan dinginya hujan.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, segudang profesi pernah Bapak dan Ibu lakukan. Bapak pernah jualan nasi goreng keliling, menjadi buruh bangunan, menjadi buruh tani, jaga rumah, dan sekarang bapak menjadi buruh barang-barang rongsokan dan terkadang memulung sampah. Begitupun dengan ibu. Untuk menambal kekurangan kebutuhan hidup, ibu bekerja menjadi pembantu, buruh cuci dan gosok dan membantu bapak mencari barang rongsokan.

Terkadang ketika bos rongsokan bapak ada uang, bapak dipinjami terlebih dahulu. Tetapi jika tidak ada bapak jalan kaki dari daerah satu ke daerah lain mencari barang-barang bekas milik orang lain. Penghasilan yang tidak menentu dan serba kekurangan ini lah yang sering menjadi pertimbangan apakah saya serta kakak dan adik saya akan mampu melanjutkan sekolah. Namun, di tengah keterbatasan yang kami miliki, Bapak dan Ibu selalu meminta kami untuk mengedepankan sekolah. Bagaimanapun caranya, kami harus sekolah. Bapak dan Ibu selalu yakin bahwa suatu saat pendidikan akan mengubah keadaan ini.

Ibu merupakan sosok perempuan tangguh dan luar biasa yang selalu mendorong anak-anaknya untuk dapat menjadi anak yang mandiri. Ketika masih SMP, selepas pulang sekolah, saya bekerja mengelupasi botol-botol bekas dan memilah-milah buku bekas ditempat bos bapak saya bekerja. Memang hasilnya tidak seberapa, hanya Rp 1000 rupiah per hari, tetapi ibu melatih mental saya agar menjadi anak yang mandiri, kuat, dan bisa berwirausaha suatu saat nanti. Begitupun dengan kakak  saya, selepas pulang sekolah juga bekerja disebuah bengkel motor milik tetangga bahkan tanpa dibayar. Bapak dan Ibu selalu mengatakan bahwa dalam hidup ini tidak semua harus dinilai dengan materi, karena disisi lain kami dapat memetik hikmah yakni ilmu kehidupan. Sebagai pelajar saya juga tidak lupa akan kewajiban saya. Ketika SMP saya berhasil masuk kelas unggulan, menjadi juara kelas, aktif dalam ekstrakulikuler dan mengikuti berbagai ajang perlombaan.

Setelah tamat dari SMP saya terancam tidak dapat melanjutkan sekolah SMA. Saya masih ingat, selepas lulus SMP kakak saya berhenti satu tahun karena ketiadaan biaya dan mengharuskan untuk bekerja. Apalagi saat itu adik kami didiagnosa terkena flek paru yang mengharuskan meminum obat selama enam bulan penuh. Di tengah kesulitan yang kami hadapi, lagi-lagi Bapak dan Ibu meyakinkan agar saya harus terus sekolah. Meminjam bank-bank kecil terkadang menjadi solusi meskipun sebenarnya “gali lobang tutup lobang” karena bunga bank yang tinggi. Terkadang berhari-hari kami sekeluarga menahan lapar dan berpuasa karena hasil kerja keras Bapak dan Ibu hanya cukup untuk membayar cicilan utang.

Syukurnya ketika SMA saya mendapatkan pekerjaan sambilan di sebuah toko kelontong kecil. Toko tersebut terletak tidak jauh dari SMA, sehingga selepas pulang sekolah, dari pukul 14.00- 19.30 saya bekerja untuk membantu Bapak-Ibu. Meskipun saya hanya digaji Rp. 20 ribu rupiah/bulan, Bapak dan Ibu tetap mengingatkan untuk tidak menilai segala sesuatu hal dari materi tetapi ilmu apa yang bisa peroleh dari pekerjaan tersebut. Biaya sekolah SMA yang sangat tinggi, membuat saya harus bekerja lebih giat lagi. Pada saat libur nasional dan hari minggu saya bekerja sambilan disebuah pemancingan menjadi pengantar makanan. Di setiap saya mengantar makanan ke pelanggan, saya selalu berdoa semoga suatu saat nanti saya dapat membahagiakan kedua orang tua saya dan meningkatkan harkat, martabat dan derajat kedua orang tua.

Selepas saya SMA saya sebenarnya tidak ada bayangan untuk melanjutkan perguruan tinggi, saya sadar bahwa untuk sekolah SMP dan SMA saja membutuhkan banyak biaya yang tidak sedikit apalagi untuk mengenyam bangku perkuliahan. Hingga pada suatu hari ketika saya membantu bapak saya memilah-milah barang rongsokan, saya mendapatkan buku SNMPTN berwarna biru. Dalam buku tersebut tertera berbagai daftar Universitas Negeri dan Ternama di Indonesia. Ingin rasanya saya mencoba mendaftar kuliah. Saya memberanikan diri mengatakan kepada Bapak dan Ibu, namun Bapak Ibu hanya diam saat itu. Saya mengerti betul seharusnya selepas SMA saya harus bekerja dan meningkatkan perekonomian keluarga. Tetapi disitu terkadang saya berfikir, saya juga ingin berjuang untuk Bangsa Indonesia. Harapan saya dengan sekolah tinggi saya dapat membantu banyak orang yang bernasib sama bahkan dibawah saya.

Saya mencoba mendaftar beberapa beasiswa agar saya bekesempatan untuk dapat melanjutkan perguruan tinggi. Namun pada saat itu saya dinyatakan tidak lolos pada tes SNMPTN, Ujian Mandiri 1 Unnes, Ujian Mandiri 2 Unnes dan Ujian Mandiri Universitas Diponegoro. Saya sempat berputus asa dan menganggap bahwa sebaiknya saya mengubur mimpi saya dalam-dalam untuk kuliah. Hingga di tengah keputusasaan saya, Bapak memberikan koran bekas yang berisikan bahwa Unnes masih membuka pendaftaran tahap terakhir dan disediakan progam beaiswa Bidikmisi. Saya pun berusaha kembali dan akhirnya saya di nyatakan lolos, meski sebagai cadangan.

Pada bulan Agustus 2012, saya dinyatakan lolos menjadi mahasiswa progam studi ilmu politik Unnes.  Akan tetapi, pada semester pertama saya belum dinyatakan sebagai penerima beasiswa bidikmisi dan dikenakan biaya uang pangkal sebesar Rp 7.150.000. Seketika itu juga saya lemas karena keluarga kami tidak memiliki uang sepeser pun. Saya tidak memiliki apa–apa untuk persiapan awal kuliah, laptop pun saja saya tidak punya. Akhirnya selama satu semester saya meminta keringanan waktu untuk membayar uang pangkal tersebut. Kami sekeluarga pun bekerja keras. Saya memutuskan kuliah sambil bekerja apapun dari jadi babysitter hingga menjadi buruh pasar. Akhirnya, ditengah penghujung semester 1 saya diperkenankan mendapatkan keringanan uang pangkal dari kampus. Selain itu, saya juga mampu menperoleh IPK teringgi se-jurusan pada semester awal pertama.

Pada semester kedua, secara mengejutkan saya dinyatakan lolos menjadi penerima beasiswa bidikmisi pengganti. Saya teramat bersyukur karena satu per satu masalah dan kendala dalam kuliah saya dapat teratasi. Dari uang saku Bidikmisi saya mencicil sebuah laptop, sisanya saya gunakan untuk kebutuhan kuliah. Meski begitu, saya tetap bekerja keras di sela waktu perkuliah untuk menutupi kekurangan kebutuhan. Terkadang disela-sela kegiatan saya membeli buku-buku bekas milik teman saya untuk membantu Bapak dan Ibu mengumpulkan barang rongsokan.

Saya bersyukur, meskipun saya harus bekerja keras untuk dapat merasakan dan mengenyam bangku perkuliahan tetapi saya tidak melupakan kewajiban saya sebagai pelajar. Saya sering mengikuti lomba kepenulisan, saya pernah menjadi juara III lomba Essay Tentang peran pemuda menghadapi MEA Tingkat Universitas, menjadi juara harapan 1 LKTI tingkat nasional mewakili provinsi Jawa Tengah, menjadi Juara 1 Lomba Sadar Wisata dan Sapta pesona mewakili Kota Semarang, menjadi finalis lomba debat political tingkat Jawa Tengah dan DIY, Juara III Essay tentang Penguatan DPD Tingkat Jawa Tengah dan DIY, menjadi Mahasiswa Berprestasi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang dan masih banyak lainya.

Tidak terasa sudah tiba dipenghujung semester akhir, saya bekerja keras agar saya dapat menyelesaikan skripsi saya tepat waktu. Tepat pada tanggal 12 Mei 2016 saya dinyatakan lolos sidang skripsi. Masih teringat memori saat itu, 27 Juli 2016 merupakan wisuda sarjana. Tak kuasa saya menahan tangis dan syukur telah memilki Bapak dan Ibu, dua malaikat yang sangat luar biasa dalam mendukung penuh selama ini. Bahkan Bapak Rektor Universitas Negeri Semarang, Prof. Dr. Fathur Rokhman M. Hum  merekomendasikan saya untuk mendapatkan beasiswa magister luar negeri.

Namun saya tidak ingin berpangku tangan begitu saja. Setelah wisuda berakhir saya bekerja keras agar saya dapat lolos dan meraih impian saya untuk melanjutkan magister. Saya mencari berbagai referensi dan belajar bagaimana agar saya lolos beasiswa LPDP.  Pada bulan November 2016, saya mengikuti tes seleksi beasiswa LPDP di Jogjakarta. Ibu setia menemani saat itu, meskipun kami hanya tidur disebuah mushola kecil. Tanggal 10 Desember 2016, saya dinyatakan lolos seleksi beasiswa LPDP. Setelah dinyatakan lolos beasiswa LPDP saya berusaha untuk mendaftar beberapa kampus di New Zealand. Dengan penuh rasa syukur, saya dinyatakan diterima dengan syarat di University of Otago dan University of Auckland.

Bapak dan Ibu  bukanlah orang yang mengenyam pendidikan tinggi, bahkan bapak saya tidak pernah merasakan sekolah. Tetapi beliau sangatlah pengertian dan paham betul apa yang anak-anaknya perlukan untuk sekolah. Bapak dan Ibu saya memang tidak mampu membelikan saya buku-buku pelajaran tetapi ketika beliau mendapatkan buku-buku bekas pelajaran, beliau selalu mengumpulkan dan memilah buku-buku bekas tersebut untuk saya belajar. Bapak dan Ibu saya memang tidak mampu membelikan saya tas dan sepatu bagus untuk sekolah, akan tetapi ketika mereka mendapatkan tas dan sepatu bekas, mereka kumpulkan dan mereka jahit pada malam harinya untuk saya pergunakan sekolah. Bapak  dan Ibu saya memang tidak mampu membelikan saya pakaian bagus, tetapi ketika mereka mendapatkan baju bekas dari rongsokan beliau ikhlas mencuci baju tersebut hingga bersih agar dapat saya gunakan untuk sekolah.

Selalu selepas pulang ke rumah ibu tidak akan pernah tidur sebelum melihat saya pulang. Terkadang ketika selesai berorganisasi pada malam hari saya mulai mengerjakan tugas-tugas perkuliahan, Ibu selalu setia menemani hingga tugas perkuliahan saya selesai. Padahal saya tahu persis ibu sangat lelah setelah bekerja seharian penuh menjadi pembantu rumah tangga. Tapi kedua orang tua saya  tidak pernah  mengatakan  lelah untuk dalam memotivasi dan memberikan semangat untuk pendidikan kami.

Penulis: Firna Larasanti (Awardee LPDP Program Magister)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*