MUSIK UNTUK PENYANDANG DIFABEL #ShitLPDPAwardeessay

Gian Afrisando Pujakusuma tak putus semangat meskipun harus menjalani seleksi beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dua kali. “Di kesempatan pertama, saya merasa sangat gugup menghadapi reviewer, sehingga gagal dalam tahap wawancara,” kata musisi muda yang dikenal dengan nama panggung Jay Afrisando itu. Kini, Jay tengah menjalani program S2 Jurusan Music Composition di University of Minnesota, Amerika Serikat. Visi masa depannya setelah kembali adalah mengembangkan wahana musik, khususnya bagi penyandang difabel. Sebagai musisi, Jay lebih banyak menyampaikan gagasan melalui nada atau tulisan. Seleksi wawancara LPDP sangat menantang karena dia dituntut untuk dapat menjawab rangkaian pertanyaan secara lisan. “Saya berlatih simulasi wawancara. Jujur saja, keterampilan berbicara saya tidak terlalu baik,” kata Jay kepada Media Keuangan belum lama ini. Latihan membuat anak muda kelahiran Cilacap, 11 April 1989 tersebut merasa lebih yakin mengulang proses seleksi. Jay akhirnya berhasil meyakinkan para pewawancara dan dinyatakan lulus seleksi LPDP.  Proses pencarian universitas untuk melanjutkan studi telah berlangsung sebelum lulusan program S1 jurusan Komposisi Musik di Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta itu mengajukan aplikasi beasiswa LPDP. Pada 2014, Jay bertemu Professor Alex Lubet dari University of Minnesota di Korea Selatan. Saat itu, dia berpartisipasi dalam kegiatan CulturalPartnership Initiative di National Gugak Center, Seoul. Setelah pertemuan tersebut, mereka mulai berkomunikasi melalui media sosial. Obrolan keduanya nyambung.

Gayung makin bersambut setelah Professor Lubet menawarkan Jay untuk melanjutkan studi di School of Music di University of Minnesota. Kesempatan emas itu tentu tak dilewatkan Jay. Di kampus University of Minnesota, Professor Lubet adalah salah satu di antara sedikit ahli musik untuk penyandang difabel. Keahlian ini selaras dengan ketertarikan Jay pada pada bidang komposisi musik, musik dan teknologi, serta musik untuk kaum difabel. Selain Professor Lubet, pengajar lain yang dikagumi Jay adalah Professor Mazzola. “Saya banyak membaca buku karangan beliau tentang musik dan teknologi,” ujarnya. Untuk mendaftar pada jurusan Komposisi Musik, Jay bukan hanya diminta mengisi formulir dan menyerahkan hasil tes bahasa Inggris, melainkan juga harus mengirimkan portofolio karya komposisi.

Belajar dan Bermain Musik

Tiga hal utama dipelajari Jay di Minnesota, yaitu teknologi musik, music untuk difabel, dan komposisi music itu sendiri. Teknologi berpengaruh besar dalam pesatnya perkembangan musik di dunia dalam kurun waktu 50 tahun terakhir. Bagi Jay, mempelajari teknologi musik bukan hanya mempelajari perangkatnya saja, melainkan juga menyingkap cara berpikir para pemusiknya. “Yang perlu disadari adalah para penyandang difabel sebenarnya mampu terlibat dalam aktivitas musical secara langsung dan tanpa batasan apapun,” ujarnya. Menurut Jay, mempelajari komposisi musik adalah mempelajari aspek pragmatis dan filosofi, di mana keduanya saling menunjang. Dengan teknologi, para penyandang disabilitas dapat menciptakan wahana menuju pangalaman musikal. “Teknologi dapat digunakan untuk menciptakan karya, di mana di dalamnya termasuk tapi tidak terbatas, pada musik,” kata Jay. Yang menyenangkan, Jay bukan hanya belajar secara teori di dalam kelas. Dia juga mendapatkan kesempatan bermain musik. “Pada 2016, saya sempat mendapatkan penghargaan Minnesota Emerging Composers Award,” kata dia. Bukan hanya itu, komposisi music yang diciptakan Jay bahkan sempat digunakan oleh grup band militer Amerika Serikat. “Saya juga diajak bermain music bersama mereka dalam US Marine PartyBand,” ujarnya melanjutkan. Jay juga mendapatkan kesempatan untuk menulis buku bersama dengan Professor Mazzola dan tujuh mahasiswa lainnya. Publikasi berjudul Basic Music Technology; An Introduction rencananya akan diterbitkan oleh Springer International Publishing. “Buku itu akan menjadi salah satu rujukan teks mahasiswa S1 dalam mempelajari teknologi musik dasar,” kata dia.

 

Jatuh Cinta pada Musik

Komposisi musik telah menarik minat Jay sejak dia duduk di bangku SMA. Referensi musik yang didengarkannya pada saat itu mulai dari karya-karya Dream Theater, Allan Holdsworth, Ornette Coleman, hingga orchestra pimpinan Herbert von Karajan. Pada 2008, Jay mendapatkan kesempatan untuk menggubah aransemen sebuah lagu untuk iringan paduan suara mahasiswa Universitas Gajah Mada dengan format ansambel string. Pengalaman itu menjadi momen penting dalam hidup Jay. “Di titik itulah saya menyadari potensi diri dalam menggubah karya musik. Di tahun yang sama, saya kemudian mendaftarkan diri berkuliah di ISI,” kata dia. Kini Jay telah memiliki portofolio sebagai penampil musik yang cukup panjang. Di antara berbagai pengalaman itu, pertunjukkan partisipatoris Mode[a]rn: What can We Learn and Earn from being Modern? Termasuk yang paling berkesan. Di samping berkolaborasi dengan seniman Gatra Wardaya, Jay juga bekerja dengan musisi, penata panggung, programmer aplikasi, aktor, dan penulis untuk menampilkan pertunjukkan di Yogyakarta pada 2016. Pertunjukan yang mendapatkan Hibah Seni Karya Inovatif dari Yayasan Kelola itu juga memorable bagi Jay karena memiliki misi untuk menyingkap realita atas teknologi dan menjadi pengingat untuk belajar dan mendapatkan sesuatu dalam kehidupan modern. “Bukan malah menjadi korban modernitas,” kata Jay.

Pengalaman berkesan lainnya adalah saat Jay menjalani residensi music OneBeat di Amerika Serikat. Residensi itu melibatkan 25 musisi dari 17 negara. Dalam program tersebut, para musisi yang terpilih menciptakan karya-karya baru, saling berinteraksi satu sama lain, dan merefleksikan peran musik dalam masyarakat. Jay sendiri menghasilkan beberapa karya, di antaranya adalah notasi grafis partisipatoris yang melibatkan orang tua dan anak-anak untuk menggambar apapun di atas kertas yang kemudian menjadi notasi grafis dan diwujudkan ke dalam musik. Karya lain dari residensi itu adalah Gendhing Trans-Border, sebuah karya musik-improvisasi yang mengadaptasi gaya permainan karawitan Jawa dan ditampilkan oleh enam musisi dari berbagai negara.

Aktivitas Lain

Selain berkuliah, Jay juga bergabung dalam Sumunar Gamelan Ensemble di kampusnya. “Saya telah berpartisipasi dalam empat pertunjukkan gamelan dan tari selama berada di Minnesota,” kata Jay. Pada acara Indonesian Festival 2017 yang diadakan oleh PERMIAS (Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat) Minnesota, Jay menampilkan music saluang dan sarunai khas Sumatera Barat. Untuk memenuhi kebutuhan rohani, Jay bergabung dalam komunitas Pengajian Indonesia yang memfasilitasi pengayaan ilmu agama Islam dan silaturahmi. Pesertanya bukan hanya warga Indonesia, melainkan juga muslim dari berbagai negara. “Saya juga bergabung dalam acara acara MIS (Minnesota Indonesia Society) dan ikut acara HUT Kemerdekaan RI dan juga acara silaturahmi dengan KJRI,” ujar Jay. Setelah menyelesaikan studi, Jay ingin mengembangkan dan menjadikan music sebagai sumber pengetahuan di Indonesia, tidak lagi sebatas menjadi hiburan belaka. “Saya berharap dapat membangun wahana, baik itu daring maupun fisik, yang dapat menjadi salah satu rujukan pengetahuan musik bagi masyarakat,” kata Jay. Dia juga berharap sarana itu dapat dimanfaatkan oleh anak-anak dan kaum difabel untuk mencapai pengalaman musikal yang luas, tanpa batas, asyik, dan mendidik.

Sumber: Media Keuangan Kemenkeu

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*