TEMUAN SIGNIFIKAN UNTUK PEMBERANTASAN TUBERKULOSIS

Penemuan Dewi Nur Aisyah dan Tim Garuda 45 membawa kemajuan yang signifikan pada upaya pemberantasan penyakit tuberkulosis (TB). Dewi—biasa dia disapa—bersama timnya berhasil menemukan alat deteksi TB yang mudah dan murah bernama Tubercolosis Detect and Care (TB DeCare). Lewat TB DeCare, penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) itu juga sempat melaju menjadi salah satu pemenang tingkat nasional pada kompetisi Imagine Cup Student Competition in World Citizenship Category. Lomba itu digelar oleh perusahaan IT raksasa, Microsoft pada 2016. Kini Dewi dan tim-nya terus melakukan penyempurnaan TB DeCare sambil berjuang menyelesaikan pendidikan doktoral di University College London (UCL), Inggris. Di kampus, sehari-hari Dewi bergelut dengan bidang Epidemiologi Penyakit Menular. Sebagai mahasiswa di Department of Infectious Disease Informatics, dia bukan hanya belajar penyakit dari sisi epidemiologinya saja, melainkan juga ranah informatika kesehatan. Perempuan kelahiran 1 Desember 1988 itu tertarik untuk menekuni bidang Epidemiologi karena jumlah ahli yang masih sangat kurang jika dibandingkan dengan kebutuhan penduduk Indonesia. Menurut Dewi, di negara-negara maju, ahli Epidemiologi sangat dicari karena keilmuan mereka akan membantu memberikan evidence based untuk para pengambil kebijakan di bidang kesehatan.

Dewi mulai mendalami bidang Epidemiologi sejak duduk di semester lima Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI). Setelah lulus sarjana pada 2010, Dewi melanjutkan program master jurusan Modern Epidemiology di Imperial College London dengan beasiswa Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Setelah meraih gelar S2 pada 2012, Dewi kembali ke negeri Ratu Elisabeth pada 2014 untuk menjalani program S3. Kali ini dia tak berangkat seorang diri. Suaminya, Rhevy Adriade Putra juga menerima beasiswa S3 dari LPDP. Di London, pasangan suami istri itu bersekolah sambil mengasuh putri kecil mereka, Najwa Falisha Mehvish. “Saya bersyukur mendapat supervisor yang sangat mumpuni, baik, dan ramah. Teman-teman di UCL juga begitu terbuka dengan perbedaan. Mereka tak memandang aneh orang Asia atau muslimah yang berasal dari lain benua,” kata Dewi dalam wawancara dengan Media Keuangan belum lama ini. Keberadaan Doctoral Training Course di UCL sangat membantunya dalam memahami software, metode penelitian, statistik, hingga meningkatkan kemampuan mencari referensi, menulis tesis, dan memberikan presentasi.

Bersekolah sambil mengurus keluarga di luar negeri bukan perkara enteng. Dalam menjalaninya, Dewi memiliki prinsip untuk bekerja cepat. “Jika orang lain membutuhkan waktu enam bulan untuk mengerjakan tugas, maka saya harus dapat menyelesaikannya dalam waktu tiga bulan,” ujarnya. Dalam satu minggu, Dewi mengunjungi kampus dalam dua hingga empat hari. Ketika di kampus, dia biasa menghabiskan waktu dari jam Sembilan pagi hingga delapan malam. “Saya padatkan pekerjaan lima hari menjadi dua hingga tiga hari. Dengan begitu, waktu saya bermain dengan anak, memasak, dan mengurus cucian dapat ditunaikan di sisa hari-hari lainnya,” kata Dewi.

Pengembangan TB DeCare

Dalam pengembangan TB DeCare, Dewi mengajak tiga awardee LPDP lain di Inggris dalam Tim Garuda 45. Ketiganya adalah Ahmad Ataka, mahasiswa program doktoral bidang Robotics; Ali Akbar Septiandri, awardee yang memiliki keahlian di bidang Artificial Intelligent; dan Muhammad Rezqi yang menjalani studi di bidang Cyber Security and Privacy. Melalui TB DeCare, mereka mengintegrasikan seluruh komponen yang diperlukan untuk memberantas TB dengan menggunakan teknologi tepat guna dan harga yang terjangkau. “Dengan demikian, teknologi ini dapat dengan mudah diterapkan di negaranegara berkembang di mana permasalahan TB paling banyak ditemukan,” kata Dewi.

Dalam pengoperasiannya, TB DeCare terintegrasi dengan alat pendeteksi otomatis serta menggunakan pengelolaan citra digital (digital image processing) dari sputum (dahak) pasien. Gambar sputum akan menjadi penunjuk adanya bakteri tuberkulosis. Agar terjangkau di derah-daerah terpencil, Tim Garuda 45 mengembangkan mikroskop portable dengan menggunakan ponsel. Melalui alat ini, maka pendeteksian bakteri TB pada sputum pasien tidak lagi memerlukan kinerja evaluasi laboran dan mikroskop di laboratorium, tetapi dapat diterapkan secara otomatis hanya dengan menggunakan ponsel. TB DeCare merepresentasikan alat diagnosis TB yang mudah dan efisien dengan hasil yang akurat. Menurut Dewi, tantangan pemberantasan TB adalah rendahnya angka kepatuhan berobat pasien yang dapat menyebabkan kejadian putus berobat, bahkan resistensi terhadap obat. Oleh sebab itu, TB DeCare juga terintegrasi dengan portal informasi sekaligus aplikasi pengingat minum obat secara otomatis. Dokter dapat memasukkan jadwal minum obat, jadwal kunjungan, serta jadwal pengambilan obat pasien yang kemudian terhubung dengan sistem pengingat otomatis. Melalui sistem TB DeCare, dokter atau tenaga kesehatan juga bisa memasukkan data setiap pasien yang telah terdeteksi terinfeksi TB serta mengevaluasi pengobatan pasiennya. Data demografi, gejala, riwayat penyakit, pengobatan, dan evalusi vital pasien akan terekam dalam sistem TB DeCare. Tak hanya itu, pasien dan PMO (Pengawas Minum Obat) juga dapat. mengakses informasi mengenai tuberkulosis, jadwal pengobatan, serta forum konsultasi dengan tenaga kesehatan melalui aplikasi mobile. “Sistem ini dapat mengadaptasi ketersediaan teknologi di wilayah pengguna, sehingga pengingat minum obat dapat dikirimkan, baik dalam bentuk aplikasi mobile maupun melalui SMS,” ujar Dewi.

Dukungan dari LPDP

Dewi bersyukur karena inovasi Tim Garuda 45 mendapat dukungan dari LPDP. “Tiket perjalanan ke Indonesia untuk mempresentasikan karya kami saat kompetisi Imagine Cup ditanggung oleh LPDP,” katanya. Di samping itu, LPDP juga menghubungkan mereka dengan pihak-pihak terkait yang dapat mendukung pengembangan TB DeCare hingga nantinya bisa diterapkan di Indonesia. “Atas izin Allah, enam bulan setelah TB DeCare menang di Imagine Cup, saya bertemu dengan Pak Arifin Panigoro selaku Ketua dari STOP TB Partnership Indonesia. Beliau sangat antusias dengan ide kami dan bersedia menjadi sponsor untuk pengembangan alat ini,” ujar Dewi. Pada awal Februari lalu, Tim Garuda 45 memberikan paparan di hadapan berbagai pihak, antara lain pejabat Dinas Kesehatan

Provinsi DKI Jakarta, kepala puskesmas, kepala Laboratorium Mikrobiologi UI, ketua Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia, dan perwakilan Microsoft Indonesia. Dewi dan Tim Garuda 45 telah memiliki rencana pengembangan TB DeCare yang meliputi penambahan fungsi bright field dan flourescene dalam satu mikroskop, pewarnaan sampel sputum dengan staining Ziehl Nielsen dan Auramine, serta pembandingan akurasi dan kemudahan antara perbesaran mikroskop menggunakan ball lense dengan double lense. Di samping itu, mereka juga memiliki rencana untuk mengembangkan mikroskop yang dilengkapi dengan penggeser preparat otomatis. Dengan demikian, laboran hanya perlu meletakkan sampel pada preparat dan mikroskop dapat bekerja otomatis dalam menangkap gambar serta mengirimkannya kepada server untuk dianalisa. “Kami juga ingin mengembangkan sumber energy mikroskop berupa baterai jam atau charger,” ujar Dewi.

Di masa depan, Dewi bercita-cita untuk menjadi akademisi dan peneliti internasional. “Saya sangat berharap bidang keilmuan yang tengah saya pelajari saat ini sedikit banyak akan dapat memberikan sumbangsih perubahan kepada Indonesia,” kata perempuan yang baru saja menerbitkan buku berjudul “Awe-Inspiring ME!” tersebut. Dewi juga berharap dapat menjadikan masa studi S3 yang dijalaninya dalam tiga tahun sebagai periode untuk menyerap ilmu seluas-luasnya. “Hingga ilmu itu kemudian saya tularkan kepada generasi bangsa selanjutnya,” ujar Dewi mengakhiri wawancara.

Sumber: Media Keuangan Kemenkeu

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*