MENJADI ALUMNI YANG BERKONTRIBUSI

Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menggelar Malam Welcoming Alumni di Aula Dhanapala Kementerian Keuangan, Senin (06/02). Acara ini ditujukan untuk menyambut kedatangan alumni LPDP serta sebagai wadah bagi mereka untuk bertemu, menjalin networking, dan saling memberikan inspirasi untuk membangun Indonesia. Bhima Yudhistira Adhinegara, penerima beasiswa LPDP dan alumni University of Bradford, Inggris, menjadi salah satu peserta yang hadir dalam kesempatan itu. Bagi Bhima—pangolin akrabnya—pesan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati pada malam Welcoming Alumni sangat bermakna. “Welcoming Alumni menjadi momen penyadaran diri bagi saya. Setelah belajar dengan beasiswa LPDP, ada kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap alumni dengan kerja cerdas dan nyata di tengah masyarakat,” kata anak muda kelahiran Pamekasan, 3 November 1989 itu. Bhima memandang penting sinergi antara alumni dari berbagai bidang seperti yang disampaikan Menkeu dalam sambutannya. Untuk mendorong sinergi itu, dia turut berkontribusi langsung dengan mengembangkan jaringan alumni LPDP lewat lembaga think tank Mata Garuda Institute. “Harapannya agar bisa keluar ide-ide besar dari seluruh awardee LPDP yang bermanfaat bagi pembangunan Indonesia,” ujar lulusan program S1 dari International Undergraduate Program, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

Di samping melalui Mata Garuda, Bhima juga aktif berkontribusi sebagai ekonom dan peneliti di INDEF (Institute for Development of Economics and Finance). Dia banyak melakukan riset ilmiah dan membangun opini-opini yang konstruktif agar tujuan dari pembangunan ekonomi sejalan dengan cita-cita para pendiri bangsa. “Saya telah mengabdi di INDEF sejak sebelum berangkat sekolah. Jalur pengabdian ini saya rasa yang paling pas hingga saat ini,” kata Menteri Riset Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa UGM tahun 2012 itu. Bhima rajin menuangkan gagasan dan hasil risetnya di berbagai media nasional. Wajahnya juga mulai bersliweran di berbagai program berita ekonomi di layar kaca.

Memilih LPDP

Pada 2015, Bhima mendapatkan gelar Master of Science (M.Sc) in Finance dari University of Bradford dengan predikat Graduate with Merit. Dia memilih mendaftar beasiswa LPDP untuk membiayai studinya karena jaringan intelektual yang dibangun di antara para awardee-nya terus tumbuh secara eksponensial. LPDP juga memiliki nilai nasionalisme yang kuat. “Artinya ada rasa tanggung jawab yang besar kalau sudah menjadi awardee LPDP, wajib pulang dan berbakti untuk negeri,” kata Bhima. Bhima mempersiapkan pendaftaran beasiswa LPDP kurang lebih selama enam bulan. “Saya harus pulang pergi antara Jakarta dan Jogger untuk mencari informasi dan persiapan IELTS,” ujarnya. Di samping itu, dia juga menyisihkan waktu di perpustakaan untuk mempelajari buku-buku teks yang akan digunakan nantinya di kampus tujuan. Membangun komunikasi dan melakukan konsultasi dengan beberapa alumni di kampus yang diincar juga dilakukan Bhima. “Intinya saya ingin persiapan maksimal, agar tidak malu jadi awardee LPDP jika terpilih,” ujarnya. Bhima mengambil program MSc in Finance di University of Bradford dikarenakan kampus tersebut memiliki triple crown accreditation sekaligus, yaitu Equis (European Quality Improvement System), AMBA (The Association of MBAs), dan AACSB (The Association to Advance Collegiate Schools of Business). Selain soal rating, iklim belajar di Bradford dan berbagai fasilitas yang ada, salah satunya trading room—ruang perdagangan bursa saham—menjadi daya tarik tersendiri. Hal lain yang juga menjadi pertimbangan Bhima adalah keberadaan dua orang dosen di sana yang telah mempublikasikan jurnal dengan topik sama dengan rencana tesisnya.

Di Bradford, fokus studi Bhima menyangkut pasar keuangan dan perbankan. Alasannya sederhana, ia ingin memberikan masukan yang berkualitas bagi pemerintah dan industri keuangan. “Saat ini industri keuangan berubah sangat cepat dan membutuhkan respons dari sisi regulasi dan praktik bisnis di lapangan,” kata dia. Bhima telah lama jatuh cinta dengan bidang keuangan, tepatnya sejak berkuliah di UGM. Dia tertarik untuk mendobrak paradigma bahwa industri keuangan hanya berkutat soal cara mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dengan resiko yang minim. Di situ, Bhima melontarkan kritik terhadap pandangan bahwa paradigma industri keuangan menjadi akar penyebab ketimpangan. “Saya bertekad untuk mengubah wajah industry keuangan di Indonesia agar pro poor sekaligus pro growth,” ujar Bhima.

Proses Perkuliahan

Selama menjalani perkuliahan, Bhima mengaku hampir tidak mengalami kesulitan yang berarti. Pencairan dana beasiswa LPDP selalu tepat waktu. Kendala gegar budaya juga hampir tidak terjadi karena Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Inggris sudah sangat baik dalam menyambut mahasiswa-mahasiswa baru. “Ada rasa saling tolong menolong antarmahasiswa di sana dan itu sangat membantu,” kata dia. Bhima sempat terpilih menjadi Ketua PPI Inggris chapter Bradford. Amanah yang diemban selama satu tahun banyak memberikan manfaat baginya, terutama dalam hal menambah jaringan pelajar di Inggris. Bersama teman-teman pelajar dari beberapa universitas di Inggris, Bhima sempat membuat kelompok diskusi Lingkar Studi Cendekia (LSC). Kelompok epistemik tersebut dibentuk dengan semangat mengkaji dan mengkritisi perkembangan sosial ekonomi dan kebijakan terbaru di Indonesia. “Saat ini LSC sudah berkembang menjadi kelompok interdisipliner dengan diskusi rutin dan jurnal ilmiah yang makin intensif diterbitkan,” ujarnya. Bhima juga aktif dalam berbagai forum diskusi yang diadakan oleh kampus di bidang perburuhan, ekonomi untuk keadilan sosial, dan forum investor aktivis (berisi investor muda pro lingkungan dan pro negara kesejahteraan). Pada aktivitas di luar Bradford, Bhima juga sempat terlibat dalam beberapa konferensi internasional, salah satunya di Oxford. Konferensi tersebut membahas persoalan ekonomi di regional Afrika. Saat kembali ke Indonesia, ilmu dan pengalaman organisasi selama di Inggris diakuinya sangat bermanfaat untuk mempertajam analisis ekonomi dan memperluas jaringan.

Selama menempuh studi, Bhima juga sempat menorehkan prestasi dengan terpilih menjadi best presenter pada acara Indonesian Scholars International Convention di King’s College London. Saat itu, dia memaparkan hasil tesis soal ‘Investor Aktivis’ atau investor yang peduli soal keadilan sosial. Menurut Bhima, pelajaran paling penting yang didapatkannya dari perkuliahan di Inggris adalah metode belajar yang sangat berbeda. Di sana, mahasiswa dituntut untuk lebih pro aktif dalam mencari materi dan berdiskusi. Peran dosen hanya sebatas fasilitator. Tingkat keberhasilan lebih ditentukan oleh upaya mahasiswa. Metode seperti ini tepat untuk memacu produktivitas dan kreativitas pelajar. Hal yang juga menjadi pelajaran penting bagi Bhima adalah kesempatan untuk berada dalam iklim intelektual sosial yang kuat. Mahasiswa harus punya tanggung jawab sosial. “Kita bukan hanya menjadi mahasiswa yang pintar, melainkan juga mahasiswa yang mempunyai kesadaran bahwa ilmu harus digunakan kebaikan bersama,” katanya.

Pesan

Bhima berharap ada lebih banyak awardee dari pulau terluar Indonesia yang bisa menjadi bagian dari keluarga besar LPDP. Menurut dia, program afirmasi harus terus diperbesar porsinya, agar awardee yang pulang ke daerah masing-masing bisa lebih banyak. “Membangun bukan hanya di ibu kota, tapi juga dipusatkan ke daerah-daerah terluar agar ketimpangan pembangunan bisa turun signifikan,” kata Bhima. Bhima memiliki saran untuk anakanak muda yang ingin melanjutkan pendidikan dengan beasiswa LPDP. “Para pelamar sebaiknya benar-benar mempersiapkan rencana studi dengan matang. Kalau perlu persiapan untuk mendaftar LPDP adalah satu atau dua tahun sebelumnya,” ujar Bhima. Pelamar LPDP juga dianjurkan memiliki pengalaman kerja minimal dua tahun, sehingga kompetensi sudah terukur dan teruji. Ketika kembali setelah lulus, awardee diharapkan langsung dapat berkontribusi untuk membangun negeri. “Jangan sampai ada cerita awardee LPDP yang menganggur setelah selesai masa studi,” kata Bhima menutup perbincangan.

Sumber: Media Keuangan Kemenkeu

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*