Lewat Massive Action, Mata Garuda Madura Angkat Moral ‘Generasi Emas Pulau Garam’

Setelah sukses menginspirasi para pelajar SMA di Bangkalan, Madura, para alumni penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang bergabung dalam wadah Mata Garuda kembali menggelar aksi serupa. Kali ini kegiatan mereka diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Mujtamak Plakplak, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Sabtu (28/4/2018).

Dalam kegiatan kali ini, sebanyak 125 siswa SMK dan MA kelas XI terlibat. Tak berbeda dari aksi mereka sebelumnya di Massive Action yang digelar di 26 provinsi secara serentak, mereka juga melakukan pemutaran video inspirasi, kelas inspirasi dan penulisan mimpi yang kemudian digabungkan dalam sebuah ‘pohon mimpi’.

“Massive Action merupakan sebuah acara untuk menginspirasi para pelajar SMA untuk bermimpi setinggi-tingginya. Setelah sukses di 26 provinsi tanggal 19 April kemarin, kami duplikasi kegiatan ini masih dengan nama yang sama,” kata PIC Massive Action Pamekasan, Syaifiyatul

Sesi kelas inspirasi dibawakan oleh lima alumni dan awardee LPDP dari daerah Madura.

Lima orang tersebut adalah Muhammad Taufiq, Devi Anggraini Putri, Safi Aini, Nurully Myzabella dan Ulfah Abqari . Masing-masing memiliki cerita unik tersendiri terkait perjalanan pendidikan yang selama ini mereka tempuh.

Safi misalnya. Gadis asal Pamekasan ini pernah menjadi TKW selama tiga tahun di Malaysia sebelum meneruskan jenjang pendidikannya ke S1 di STAIN Pamekasan, lalu S2 di Queen’s University Belfast, Inggris, dengan beasiswa dari LPDP.

“Lulus SMA di tahun 2008, saya bekerja di Malaysia hingga tahun 2011,” ceritanya.

“Kalau saya yang pernah jadi TKW saja bisa kuliah ke luar negeri, apalagi kalian,” tutupnya disambut tepuk tangan meriah.

Pengalaman Nurully Myzabella dan Ulfah Abqari dari Kabupaten Sumenep tak kalah menarik.

Kedua Awardee ini sama-sama menempuh pendidikan di Wageningen University, Belanda dengan Jurusan yang sama.

“Kalian harus berani bermimpi, tuliskan mimpi kalian dengan sebaik dan sedetil mungkin, yakinkan diri kalian kalau kalian mampu meraihnya, jika kalian sudah berani bermimpi, tentunya kalian akan berani bertanggung jawab terhadap mimpi kalian untuk diwujudkan” tutur Nurully Myzabella yang akrab dipanggil Mbak Uly membangkitkan semangat para peserta.

Lain halnya dengan Ulfah Abqari, dalam perjuangan meraih mimpinya, dia harus berjuang dengan harus mengorbankan jarak dan waktu untuk keluarga.

Dia berjuang mempersiapkan beasiswa ke Belanda dalam kondisi hamil anak pertama.

Namun kondisinya tersebut tidak membuat dia menyerah. Bahkan dia ingin menunjukkan kepada anak yang dikandungnya bahwa ibunya tidak pernah menyerah dalam mewujudkan mimpi, sehingga semangat itu pula yang nantinya dimiliki oleh anak-anaknya kelak.

“Saya sebagai emak-emak saja bisa berjuang mewujudkan mimpi, apalagi kalian, generasi yang masih fresh, masih muda, generasi emas yang dimiliki oleh Pulau Garam Ini,” seketika itu suasana ramai dengan gemuruh tepuk tangan dari peserta.

Para peserta kemudian dimbimbing oleh para inspirator untuk menuliskan mimpi-mimpinya dalam selang waktu 10 tahun ke depan. Mimpi-mimpi tersebut harus spesifik serta diiringi target waktu yang tepat. Awalnya tampak kebingungan, namun seiring dengan arahan dari pada inspirator, mereka pun lancar mengisi lembaran peta mimpi mereka.

“Saya Ingin Kuliah di Al-Azhar Mesir dan Sepulangnya kelak akan membangun lembaga dan pondok pesantren,” ujar Ismi Maghfirah, salah satu murid kelas XII ketika menceritakan mimpi-mimpinya di hadapan seisi kelas.

Selepasnya, mereka diminta memilih satu di antara mimpi-mimpi tersebut untuk dituliskan ulang dan digantungkan dalam sebuah ‘pohon mimpi’.

“Alhamdulillah, setelah melihat langsung dari kakak-kakak tadi, saya sangat termotivasi dan bisa menghidupkan mimpi saya kembali,” ujar Imroatul Hasanah, murid lain yang bercita-cita menjadi pengusaha sukses setelah kuliah di Jepang.

“Dilaksanakan dua kali dalam setahun juga saya akan ikut,” jelasnya.

Ada pula Santriwati yang bercita-cita menjadi Angkatan Udara demi menjaga kedaulatan Udara Republik Indonesia, ujar salah satu peserta dengan semangat yang berapi-api.

Pihak sekolah menyambut baik pelaksanaan acara tersebut.

“Ini adalah acara yang sangat bermanfaat bagi kami sebagai pendidik,” kesan Kepala Sekolah yang juga sekaligus mewakili pimpinan Pondok Pesantren Al-Mujtamak, Abdus Syukur.

“Acara ini bisa memberikan semangat bagi anak-anak didik kita untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dan jangan takut untuk bermimpi yang besar terutama bagi siswa-siswi kami yang berekonomi lemah,” lanjutnya.

Ia pun berharap acara bisa diadakan kembali di masa mendatang dengan sharing berbagai banyak pengalaman dan perjuangan dibalik sebuah kesuksesan yang telah dicapai.

Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Al-Mujtamak, KH. Abdul Ghofur Syafiuddin juga sangat mendukung kegiatan pengabdian Mata Garuda Madura ini yang dapat memotivasi dan menginspirasi para santri di lingkungan Pondok Pesantren Al-Mujtama’.

“Karena, hidup tanpa mimpi seperti hidup tanpa tujuan. Namun tanpa kerja nyata, mimpi-mimpi itu tak bakal tercapai,” ujarnya.

Kehadiran para alumni penyelenggara, menurutnya, menjadi bukti keberhasilan perwujudan mimpi-mimpi bagi anak muda, khususnya anak muda Madura.

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Lewat Massive Action, Mata Garuda Madura Angkat Moral ‘Generasi Emas Pulau Garam’, http://surabaya.tribunnews.com/2018/04/29/lewat-massive-action-mata-garuda-madura-angkat-moral-generasi-emas-pulau-garam?page=4.

Editor: Eben Haezer Panca

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*